Home / berita umum / Prabowo Mengekspresikan Kekecewaan Sebab Minimnya Kabar Berita Yang Sama Saat Reuni 212

Prabowo Mengekspresikan Kekecewaan Sebab Minimnya Kabar Berita Yang Sama Saat Reuni 212

Prabowo Mengekspresikan Kekecewaan Sebab Minimnya Kabar Berita Yang Sama Saat Reuni 212 – Pro-kontra kemarahan capres nomer urut 02 Prabowo Subianto pada wartawan serta mass media selalu bersambung. Perihal ini berkaitan tuduhan Prabowo yang menyebutkan Reuni 212 yang diselenggarakan pada 2 Desember 2018 minim dikabarkan alat.

Walau sebenarnya berdasar pada pencarian team penelitian Tirto, beberapa puluh alat bikin ramai-ramai memberitakannya. Jumlahnya kabarnya cukuplah fenomenal, yakni ada 159 judul berita alat bikin yang keluar pada keesokannya.

Dengan framing pemberitaannya, semua hampir serupa, yakni ber-tone positif.

Harian Kompas, contohnya, menulis dengan judul “Reuni Berjalan Damai.” Sesaat Usaha Indonesia menulis dengan judul hampir serupa, yakni “Reuni 212 Berjalan Damai.” Begitupun dengan Jawa Pos yang memberikan judul “Reuni 212 Teratur serta Monas Bersih,” sedang Koran Sindo menulis “Berjalan Damai, Juta-an Orang Hadiri Reuni 212.”

Harian Republika bahkan juga menulis tiga judul sekaligus juga, yakni: “Reuni 212 Damai,” “HNW: Peserta Reuni Besar 212 Bebas Pilih Presiden,” serta “Soliditas serta Ukhuwah.”

Tidak hanya alat bikin nasional, alat lokal juga memberitakannya. Kalimantan timur Post, contohnya, menulis dengan judul “Dielukan Waktu Reuni 212, Prabowo Tolak Kampanye.” Sesaat Tribun Timur menulis judul “Massa Ide Pungut Sampah,” sedang Serambi Indonesia menulis “Massa 212 Menyemut, Jokowi Pilih Bersepeda.”

Akan tetapi, kenapa Prabowo masih tetap saja marah-marah pada wartawan berkaitan kabar berita Reuni 212 itu?

Juru Bicara Tubuh Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiadi memandang apakah yang dirasakan Prabowo pada wartawan serta mass media lebih pada alat tv yang kurang mengungkapkan Reuni 212 saat penerapan berjalan.

“Intinya, Pak Prabowo mengekspresikan kekecewaan sebab minimnya kabar berita yang sama saat Reuni 212. Penduduk serta ulama pada merintih. Mengapa acara Reuni 212 tidak diungkap alat? Mengapa tidak ada yang ucap 11 juta orang?” kata Andre waktu di konfirmasi reporter Tirto, Minggu (9/12/2018) pagi.

(Kami sempat menulis masalah jumlahnya Reuni Besar 212. Hitung-hitungan kami, memang angka itu bombastis serta tidak logis. Baca tulisannya di sini).

Andre memberikan “kenapa media-media tv tidak membuat acara breaking news saat 30 [menit] saja, waktu tidak dapat?”

Hal itu, kata Andre, yang membuat Prabowo mengemukakan ekspresinya dengan terbuka waktu berpidato dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional, di Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Menurut Andre, pengakuan Prabowo itu dengan keinginan alat serta wartawan ingin lakukan pembenahan serta lebih sama yang akan datang.

Andre mengakui memahami dengan adanya banyak kabar berita alat bikin yang muncul sesudah Reuni 212 dengan suara serta framing positif yang keluar pada pagi hari, seperti data yang Tirto dapatkan. Akan tetapi, katanya, semua beralih di sore harinya.

“Sore harinya, kan, beralih. Ada narasi-narasi yang menjelaskan jika Reuni 212 diskedulkan sesuai dengan kampanye. Narasi-narasi itu di besarkan oleh TKN Jokowi. Jadi efek positif Reuni 212-nya hilang,” kata Andre.

Langkah Pandang Orang politik serta Wartawan Beda
Wartawan senior cum periset alat Andreas Harsono memandang apakah yang disebutkan Andre Rosiade tentang Prabowo ialah salah satunya langkah orang politik melihat info yang perlu di terima serta dibarengi oleh pengikutnya.

Andreas menjelaskan, ada ketidaksamaan pemikiran yang begitu jelas serta substantif pada wartawan serta orang politik dalam lihat info.

“Wartawan saat menulis serta memberi info ke pembaca, mereka akan membiarkan pembaca menerjemahkan serta ambil sikap sendiri pada rumor di berita tanpa unsur pemaksaan,” kata Andreas.

Demikian sebaliknya, saat hal tersebut ada di pemikiran orang politik, kata Andreas, jadi info dipakai untuk mengatakan semua ucapannya serta supaya semua simpatisan mengikutinya dengan info itu.

“Politisi akan lihat, info dipakai untuk pendukungnya ikuti serta mengamini semua info yang ia kasih. Lewat cara apapun, kasar ataupun halus,” kata Andreas.

Andreas memberikan, bila mengacu langkah yang kasar, jadi orang politik akan tangkap wartawan serta memberedel alat yang tidak searah.

Dia ambil contoh Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte yang meneror serta tangkap wartawan. Ada pula dua jurnalis di Myanmar yang diamankan serta divonis tujuh tahun sebab meliput pembantaian Rohingya.

Faktanya, kata Andreas, jelas yakni sebab berita mereka mengganggu kestabilan info yang harusnya dimonopoli oleh negara.

“Cara yang halus, ya seperti Jokowi saya duga. Saat wartawan dibawa ke Bogor meliput keluarganya berjalan-jalan. Itu tidak salah. Fine-fine saja,” kata Andreas.

Selain itu, Andreas lihat tempat Prabowo ada di tengahnya perbatasan pada langkah yang kasar serta halus.

“Prabowo berada di perbatasan kebebasan wartawan, walau belumlah melanggar. Dia ada di bordering. Minim sekali. Trump ikut demikian. Membuat iklim kedengkian pada alat serta wartawan,” kata Andreas.

Direktur Pusat Analisis Politik (Puskopol) Kampus Indonesia Aditya Perdana menjelaskan perihal yang tidak jauh beda dengan Andreas.

Waktu Prabowo geram pada alat serta wartawan yang tidak menyebutkan Reuni 212 didatangi 11 juta orang, Aditya memandang hal tersebut menjadi suatu yang wajar mengingat Prabowo ialah seorang politik.

“Politisi akan tetap berupaya mencari titik pandang yang berlainan serta berupaya menggiring pendapat mengarah sana [kemauan dia], diantaranya mass media,” kata Aditya.

Orang politik, kata Aditya, akan tetap tunjukkan suatu yang berlainan serta menghebohkan, walau tidak logis, seperti massa 11 juta.

“Namun kita memang seharusnya sadar serta masih lihat semuanya gunakan akal sehat,” katanya.

About admin