Home / kebudayaan / Saksi Bisu Jembatan Air Mata Indonesia Timor Leste

Saksi Bisu Jembatan Air Mata Indonesia Timor Leste

Saksi Bisu Jembatan Air Mata Indonesia Timor Leste – Tangis haru pecah diatas Jembatan Air Mata yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste. Beberapa ratus orang larut dalam situasi momen budaya yang langka.

Momen ini sudah dinanti-nantikan mulai sejak 1999 lampau, waktu gejolak referendum menyeruak serta membuahkan kemerdekaan untuk Timor Leste. Lantaran dinamika politik itu, tempat hidup Suku Paslara serta Suku Daulelo jadi terbelah.

Tempat pertama yaitu Desa Aidabaleten serta Desa Rairobo, Arabae, Maliana, Timor Leste. Tempat ke-2 yaitu Desa Kenebibi, Atapupu, Belu, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Lantaran kondisi tak aman waktu itu, jadi pusaka yang ada di Timor Leste (dahulu bernama Propinsi Timor Timur) diungsikan terlebih dulu ke Indonesia. Pusaka-pusaka itu dijaga serta akan kembali pada tempatnya apabila kondisi telah aman.

Pada akhirnya sesudah 18 th. berlalu, pusaka itu dikembalikan. Jembatan Air Mata jadi panggungnya. Jembatan ini diberi nama sekian lantaran waktu pembelahan ke-2 negara, kerabat-kerabat yang terpisah sama-sama berpelukan, berjumpa, menangis, serta mengucap perpisahan di titik ini, diantara Indonesia serta Timor Leste, tepatnya di depan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, Belu, NTT.

Satu ujung pagar dicat Merah Putih, sedang ujung yang lain dicat Merah Kuning serta Hitam. Di bawahnya mengalir anak Sungai Malibaka yang mengalir ke laut.

Disaksikan detikcom pada Sabtu (1/4/2017) di tempat, diatas jembatan segi Merah Putih ada 10 pria kenakan kain Tais. Mereka membawa satu pedang, tiga tiang bendera, dua genderang senar, serta dua terompet kuningan. Satu diantara tiga tiang bendera itu dipasangi Bendera Merah Putih. Pedang, tiang bendera, genderang senar, serta terompet itu yaitu pusaka yang bakal dipulangkan.

Di segi jembatan bercat Merah Kuning Hitam, pihak dari Timor Leste telah siap terima pusaka itu. Ada empat orang, terbagi dalam tiga pria paruh baya serta satu perempuan. Semua kenakan kain tais, diperlengkapi dengan penutup kepala batik yang dipakai tiga pria itu.

Matahari pas ada diatas kepala. Acara ini diawali. Drum ditabuh. Beberapa orang jadi makin banyak. Mobil-mobil berpelat putih khas Timor Leste yang akan masuk ke PLBN Motaain mesti menanti sesaat hingga acara sakral ini usai di gelar.

Doru Vicente (41) memimpin upacara pengembalian pusaka ini. Dia sendiri yaitu anggota suku Daulelo. Doru memimpin penghormatan pada Merah Putih. Komandonya dipatuhi kebanyakan orang di tempat.

Sesudah penghormatan usai, Sang Saka Merah Putih dilucuti dari tiang itu. Bendera dilipat, dimasukkan ke kotak kayu ukuran sekitaran 50 x 20 cm. Lalu tiang bendera itu diserahkan ke pihak saudara suku yang ada di Timor Leste, disusul penyerahan dua tiang bendera yang lain, satu pedang, dua genderang senar, serta dua terompet.

Pusaka sudah bertukar tangan. Dengan cekatan, Bendera Timor Leste dipasang di tiang kayu setinggi dua mtr. itu. Tampak, ujung tiang bendera itu miliki sejenis mata tombak kuningan. Mata tombak itu bergambar Garuda Pancasila.

Dua tiang bendera yang lain memiliki ukuran tambah lebih panjang, tingginya meraih kian lebih 3 mtr.. Ada yang memiliki mata tombak, serta ada yg tidak. Mengenai dua genderang senar itu juga turut dipulangkan ke anggota suku yang bermukim di Timor Leste. Genderang itu berwarna merah, besi-besinya telah kusam mengisyaratkan umur benda ini. Dibagian depannya ada tulisan kecil ” Buatan Yogyakarta Indonesia “.

Lengkaplah, semuanya pusaka telah beralih tangan. Beberapa orang di tempat lalu bersorak. Orang-orang yang terpisah oleh batas negara ini lalu sama-sama bersalaman, sama-sama peluk, serta sama-sama tempelkan hidung sebagai bentuk keakraban mereka.

Keharuan kelihatannya telah tidak dapat ditahan dari wajah-wajah mereka. Beberapa orang dari ke-2 iris pihak saudara ini tampak mengusap pipi dengan kain. Air mata menetes bercampur senyum persaudaraan.

” Obrigado! ” kata seseorang prajurit TNI penjaga perbatasan, sembari mengacungkan jempol, melepas kepulangan rombongan Timor Leste.

Rombongan Timor Leste jalan menuju Pos Perbatasan Terpadu Batugade Bobonaro Timor Leste. Sebelumnya hingga jembatan dekat laut, mereka membungkus mata tiang bendera yang terukir simbol Garuda Pancasila. Kain batik kecil dipakai untuk menyelubungi mata pusaka ini.

About admin